Orang Lain yang Seperti Keluarga Sendiri

Orang Lain yang Seperti Keluarga Sendiri

Menjadi tua dan lemah adalah sebuah proses yang dialami oleh setiap manusia. Seiring usia, manusia akan mengalami degradasi fungsi organ-organ tubuh sehingga di saat menjadi tua dan mulai pesakitan maka lazimnya ada pihak terdekat yang dalam hal ini keluarga yang membantu mereka dalam "beradaptasi" terhadap kondisi yang ada. Pihak keluarga terdekat umumnya bisa berasal dari suami/istri, anak atau saudara kandung.

Ada satu cerita tentang bagaimana perjuangan seseorang beradaptasi dengan kondisi tubuhnya yang mulai menjadi tua dan pesakitan. Cerita ini saya dapatkan dari seorang sopir taxi online.

Saya perhatikan sopir taxi online yang membawa saya dari kantor ke daerah Kemang terlihat cemas. Sambil menyetir, ia sesekali melihat hp dan menelpon. Rasa cemas terpancar di wajahnya. Saya beranikan diri untuk menanyakan apa yang membuat dia cemas.

"Ini Pak, saya kepikiran ada ya orang yang tega." jawab sopir.

"Siapa yang tega Pak?" tanya saya kembali ke sopir itu.

""Maaf Pak, ini saya jadi cerita ya. Ini saya kenal seseorang yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah saya di daerah Kemanggisan. Awalnya dia pesan taxi online dan saya jemput di rumahnya. Saya tiba di depan rumahnya. Saya lihat si Bapak itu yang dia menyebut dirinya John sedang di kursi roda. Rupanya Pak John yang memesan taxi dengan tujuan ke Rumah Sakit Pelni. Saya turun dari mobil untuk membantu Pak John naik ke dalam mobil dan menaruh kursi roda di bagian belakang mobil. Di dalam mobil saya perhatikan dengan jelas kondisi tubuh Pak John. Tubuh Pak John terlihat sangat kurus dan pucat.

"Bapak ke Rumah Sakit Pelni hendak apa?" tanya saya.

Pak John menjawab, "Saya hendak cuci darah kesana."

"Bapak serius mau cuci darah kesana sendirian aja sekarang tanpa ada yang dampingi?" ucap saya dengan nada keheranan.

"Iya. Saya sudah biasa dan rutin cuci darah kesana tiap dua hari sekali" jawab Pak John."

Saya masih tetap keheranan dengan jawaban dari Pak John karena melihat kondisi beliau yang seperti itu.

Begitu sampai di Rumah Sakit Pelni, Pak John berpesan agar saya menurunkan beliau di depan pos satpam. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin Pak John sejak dua tahun terakhir.

Kejadian tersebut ternyata bukan akhir dari pertemuan saya dengan Pak John. Rupanya Pak John menyimpan nomor hp saya. Sejak itu beliau selalu menghubungi saya dan akrab dengan anak dan istri saya.

Pak John bercerita banyak tentang kehidupannya. Beliau menderita gagal ginjal sejak beberapa tahun terakhir ini dan sudah rutin menjalani cuci darah dari dua tahun lalu. Kondisi tubuhnya berubah drastis sejak sakit. Pak John sempat menunjukkan fotonya ketika masih sehat yang teramat kontras dengan kondisi beliau sekarang. Sekarang ini beberapa bagian tubuhnya sudah 'dilubangi' agar cairan di dalam tubuhnya tidak menumpuk. Setiap malam Pak John selalu membutuhkan minimal 2 tabung gas ukuran kecil di rumahnya untuk membantu beliau bernafas saat tidur.

Istrinya pergi meninggalkan Pak John sejak sakit. Anak satu-satunya kini kerja dan sambil kuliah di Singapura dan datang menjenguk beliau tiap bulan sekali. Dari cerita yang saya dengar dari tetangganya, dulu Pak John pernah tinggal di Jerman selama 10 tahun dan dari hasil jerih payahnya ketika muda beliau memiliki banyak aset. Semenjak sakit, beberapa rumah milik beliau dijual karena beliau hanya tinggal sendirian dan memilih untuk tinggal di rumah kontrakan milik adiknya. Kini Pak John tinggal bersama adik kandung dan suaminya.

Sudah dua minggu sejak saya mengenal Pak John dan dari waktu yang cukup singkat ini sedikit demi sedikit saya mulai dapat menangkap kondisi yang dialami Pak John. Selama sakit, Pak John hidup dari tabungan. Untuk makan sehari-hari beliau selalu menggunakan jasa pesan makanan online karena adiknya tidak masak. Di dalam rumah Pak John pun terlihat sangat mandiri tanpa merepotkan adiknya. Beliau ke kamar mandi sendiri, pasang pampers sendiri, buang sampah pampers ke depan rumah pun sendiri.

Kini saya dan Pak John sudah akrab. Entah mengapa namun Pak John sudah menganggap saya, istri dan anak saya seperti keluarga terdekat beliau. Jika saya berhalangan mengantar dan menjemput Pak John untuk cuci darah maka istri saya yang nanti antar jemput beliau. Jika Pak John ingin nginap di hotel, beliau meminta saya dan keluarga untuk ikut menemani. Jika tabung gas di malam hari sudah habis, maka beliau menelpon saya dan meminta untuk dibelikan lagi. Bahkan sampai urusan pampers habis beliau selalu menghubungi saya dan keluarga saya untuk meminta dibelikan yang baru. Awalnya memang terlihat merepotkan tapi saya coba meyakinkan ke istri bahwa anggap saja ini jalan kita untuk berbuat baik dengan membantu beliau di sisa hidupnya yang mungkin tak akan lama lagi. Dan alhamdulillah istri dapat memahaminya.

Dikarenakan sudah sangat akrab, kadang malah kebaikan yang diberikan beliau sudah saya anggap berlebihan seperti misal akan mentransfer uang untuk DP Mobil setelah tahu bahwa mobil yang saya gunakan merupakan milik orang lain dan saya mesti setor setiap hari dari hasil taxi online atau ketika beliau menawari memberi modal istri saya berjualan baju. Saya dan istri sepakat untuk tidak menerima kebaikan beliau jika kami anggap itu berlebihan.
Sekarang sudah tiga hari ini Pak John memesan kamar hotel sendirian dan saya pun antar jemput beliau ke rumah sakit dari hotel tempat beliau menginap. Beliau belum memberitahukan keberadaan beliau sekarang. Sepertinya Pak John lebih memilih untuk menjauh dan menyepi dari keluarganya dan mungkin sepertinya kini beliau lebih nyaman bersama saya dan keluarga saya."

Dipost Oleh roemasa

Murid, Pemburu Ilmu dan Hikmah

Post Terkait